Welcome to www.jamal.com
go to my homepage
Go to homepage
WELLCOME TO SITUS LO HULONDHALO

Thursday, June 2, 2011

Makkiyyah Dan Madaniyyah

BAB I
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Makkiyah dan Madaniyyah
Para sarjana muslim mengemukakan empat perspektif dalam mendefinisikan terminologi Makkiyah dan Madaniyyah. Keempat perspektif itu adalah: masa turun (zaman an-nuzul), tempat turun (makan an-nuzul) objek pembicaraan (mukhathab) dan tempat pembicaraan (maudu).[1]
Dari perspektif masa turun, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut:
اَلْـمَـكِـيُّ: مَـانَـزَ لَ قَـبْـلَ الْـهِـجْـرَةِ وَاِنْ كَـانَ بِـغَـيْـرِ مَـكَّـةَ وَالْـمَـدِنِـيُّ: مَـانَـزَ لَ بَـعْـدَ الْـهِـجْـرَةِ وَاِنْ كَـانَ بِـغَـيْـرِ مَـدِيْـنَـةَ فَـمَـا مَـانَـزَ بَـعْـدَ الْـهِـجْـرَةِ وَلَـوْ أَوْ عَـرَ فَـةَ مَـدِنِـيٌّ.

Makkiyyah ialah ayat-ayat yang turun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Mekah, sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun sesudah Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan di Madinah. Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah disebut Madaniyyah walaupun turun di Mekah atau Arafah.”
Dengan demikian, surat an-Nisa’[5] :3 termasuk kategori Madaniyyah kendatipun diturunkan di Mekah, yaitu peristiwa terbukanya kota Mekah (fath Makkah), begitu pla surat al-Ma’idah [5]:  3 termasuk kategori Madaniyyah kendatipun tidak diturunkan di Madinah karena ayat itu diturunkan pada peristiwa haji wada’.
Dari perspektif tempat turun, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut:
مَـانَـزَ بـِمَـكَّـةَ وَمـَاجَـاوَرَ هَـا كَـمِـنَ وَ عَـرَفَـةَ وَحُـدَيْـبِـيَّـةِ وَالْـمَـدَنِـيُّ: مَـا مَـانَـزَ لَ بَـالْـمَـدِيْـنَـةِ وَمَـاجَـا وَرَهَـا كَـأْ حُـدٍ وَقُـبَـاءَ وَسُـلْـعَ.
Makkiyyah adalah ayat-ayat yang turun di Mekah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyyah, seperti Uhud, Quba’, dan Sul’a.”
Terdapat celah kelemahan dari pendefinisian di atas sebab terdapat ayat-ayat tertentu yang tidak diturunkan di Mekah dan di Madinah dan sekitarnya. Misalnya surat at-Taubah [9]: 42 diturunkan di Tabuk, surat az-Aukhruf [43]: 45 diturunkan ditengah perjalanan antara Mekah dan Madinah. Kedua ayat tersebut jika melihat definisi kedua, tidak dapat dikategorikan ke dalam Makkiyyah dan Madaniyyah.
Dari perspektif objek pembicaraan, mereka mendefinisikan kedua terminologi sebagai berikut:
اَلْـمَـكِـيُّ: مَـاكَـانَ خِـطَـابًـا لأَِ هَـلْ مَـكِّـةَ وَالْـمَـدَنِـيُّ: مَـاكَـانَ خِـطَـابًـا لأَِ هَـلْ الْـمَـدِيْـنَـة.
Makkiyyah adalah ayat-ayat yang menjadi khitab bagi orang-orang Mekah. Sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang menjadi khitab bagi orang-orang Madinah.”
Pendefinisian di atas dirumuskan para sarjana muslim berdasarkan asumsi bahwa kebanyakan ayat-ayat al-Qur’an dimulai dengan ungkapan “ya ayyuha al-ziina” yang menjadi kriteria Madaniyyah. Namun tidak selamanya asumsi ini benar. Surat al-Baqarah [2], misalnya termasuk kategori Madaniyyah, padahal di dalamnya terdapat salah satu ayat yaitu ayat 21 dan ayat 168 yang dimulai dengan ungkapan “ya ayyuha an-nas”.
Adapun pendefinisian Makkiyyah dan Madaniyyah dari perspektif tema pembicaraan akan disinggung lebih terinci dalam uraian karakteristik kedua klasifikasi tersebut.
Mengungkapkan pendefinisian Makkiyyah dan Madaniyyah dari perspektif masa turun, Subhi Shalih melihat komponen-komponen serupa dalam tiga pendefinisian. Pada ketiga versi itu terkandung komponen masa tempat dan orang. Bukti lebih lanjut dari tesis Shalih bisa dilihat dalam kasus surat al-Mumtahanah [60]. Bila dilihat dari perspektif tempat turun, surat itu termasuk Madaniyyah karena diturunkan sesudah peristiwa hijrah. Akan tetapi, dalam prespektif objek pembicaraan surat itu termasuk Makkiyyah karena menjadi khitab bagi orang-orang Mekah. Oleh karena itu, para sarjana muslim memasukkan surat itu ke dalam “Ma nuzila bi al-Madinah wa hukmuhu Makki” (ayat-ayat yang diturunkan di Madinah, sedangkan hukumnya termasuk ayat-ayat yang diturunkan di Mekah).

B.  Ciri-Ciri Surat Makkiyyah dan Madaniyyah
1.    Ciri-ciri khusus surat Makkiyyah
Ciri-ciri khusus surat Makkiyah mengingat dhabith qiyasy itu, ialah
1)   Mengandung ayat Sajadah.
2)   Terdapat lafal kalla.
3)   Terdapat seruan dengan ya ayyuhan naasu  dan tidak terdapat ya ayyuhallazina amanu,  terkecuali surat al-Hajj yang diakhirnya terdapat ya ayyuhallazina amanu irka’u wasjudulayat (ayat 77 S. 22, al-Hajj). Kebanyakan ulama mengatakan bahwa surat itu Makkiyyah.
4)   Mengandung kisah nabi-nabi dan umat-umat yang telah lalu, terkecuali surat al-Baqarah.
5)   Terdapat kisah Adam dan Iblis terkecuali surat al-Baqarah.
6)   Surat-suratnya dimulai dengan huruf at Tahajji, terkecuali surah al-Baqarah dan Ali Imran. Mengenai surat Ar-Rad ada dua pendapat. Kalau dilihat dari segi uslub dan temanya, maka dia lebih tepat kita katakan surat Makkiyyah. Sebagian ulama mengatakan Madaniyyah.[2]
Keenam ciri ini, sudah dikecualikan beberapa ayat yang tersebut itu, adalah ciri-ciri yang qathy yang tepat benar penerapannya.

2.    Ciri-ciri Makkiyah yang aghlabiyah (umum)
Di antara ciri-ciri yang masyhur itu ialah:
1)     Ayat-ayatnya pendek-pendek, surat-suratnya pendek-pendek, nada perkataannya keras dan agak bersajak.
2)     Mengandung seruan pokok-pokok iman kepada Allah, hari akhir dan menggambarkan keadaan surga dan neraka.
3)     Menyeru manusia berperangai mulia dan berjalan lempang di atas jalan kebajikan.
4)     Mendebat orang-orang musyrikin dan menerangkan kesalahan-kesalahan pendirian mereka.
5)     Banyak terdapat lafal sumpah.[3]

3.    Ciri-ciri khusus surat Madaniyyah
Di antara khushusiyh-khushusuyah (ciri-ciri khsus) yang qath-iyah dari surat-surat Madaniyyah ialah:
1)      Di dalamnya ada izin berperang atau ada penerangan tentang hal perang dan penjelasan tentang hukum-hukumnya.
2)      Di dalamnya terdapat penjelasan bagi hukuman-hukuman tindak pidana, fara’id, hak-hak perdata, peraturan-peraturan yang bersangkut paut dengan bidang keperdataan, kemasyarakatan dan kenegaraan.
3)      Di dalamnya tersebut tentang orang-orang munafik terkecuali surat           al-Ankabut yang diturunkan di Mekah. Dalam pada itu, sebelas ayat yang pertama dari padanya adalah ayat-ayat Madaniyyah. Di dalam ayat-ayat itu disebut tentang orang-orang munafik.
4)      Di dalamnya didebat para ahli kitab dan mereka diajak tidak berlebih-lebihan dalam beragama, seperti kita dapati dalam surat al-Baqarah, an-Nisa’, Ali Imran dan at-Taubah.[4]
4.    Ciri-ciri Madaniyyah yang aghlabiyah (umum)
Di antara tanda-tanda yang membedakan bagian Madany dari bagian Makky ialah:
1)      Suratnya panjang-panjang, sebagian ayatpun panjang-panjang serta jelas menerangkan hukum dengan mempergunakan uslub yang terang.
2)      Menjelaskan keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang menunjukkan kepada hakikat-hakikat keagamaan.[5]
C.  Perbedaan Antara Ayat Makkiyyah dan Madaniyyah
Perbedaan ayat Makkiyyah dan ayat Madaniyyah terbagi atas tiga bidang, yaitu:
1.    Memperhatikan mukhaathab (lawan bicara)
Yang dinamakan Makkiyyah ialah bila lawan bicara Rasul ialah orang Mekah ia memuat: yaa ayyuhan nass!
Bila lawan bicara ialah orang Madinah, maka ia dinamakan Madaniyyah. Ia memuat: yaa ayyulhal ladziina aananuu!
Tapi ketentuan ini tidak berlaku selama-lamanya, karena dalam surat   al-Baqarah dan an-Nisa’ ternyata keduanya Madaniyyah. Pada keduanya terdapat: yaa ayyuhan nass!

2.    Memperhatikan tempat turunnya
Yang dinamakan Makkiyyah ialah ayat yang diturunkan di Mekah dan sekitarnya, seperti Uhud, Quba’, Sala’ dan Yastrib.
Berdasarkan pendapat ini, maka ada yang diturunkan dalam perjalanan di Tabu’, Baitul Maqdis, tidak termasuk bagian yang dua di atas ini. Ia tidak dinamakan ayat Makkiyyah dan tidak pula ayat Madaniyyah. Begitu pula apa yang diturunkan di Mekah sesudah hijrah dinamakan ayat Makkiyyah.
3.    Memperhatikan masa turunnya
Ayat Makkiyyah ialah ayat yang diturunkan sebelum hijrah, walaupun tidak di Mekah.
Ayat Madaniyyah ialah yang diturunkan sesudah hijrah, walau di Mekah atau Arafah. Ia dinamakan Madaniyyah. Umpamanya ayat yang diturunkan pada waktu Futuh Mekah atau pada waktu Rasulullah melakukan haji wada’. Ini ialah pendapat yang terkuat dari dua macam di atasnya.[6]
Ulama al-Qur’an biasanya menggunakan kriteria tempat dalam membedakan antara Makkiyyah dan Madaniyyah. Oleh karena tempat komunitas/wahyu selalu tergantung dengan tempat penerimaan. Pertama wahyu yang hijrah dari Mekah ke Madinah, kemudian kembali ke Mekah sebagian penakluk dan setelah itu hilir mudik ke Mekah untuk berhijrah atau berhaji maka sebagian ulama berpendapat bahwa “(ayat) Makkiyyah adalah ayat yang diturunkan di Mekah meskipun setelah peristiwa hijrah dan Madaniyyah adalah ayat yang diturunkan di Madihah.[7] Sebagian lagi bersikap berlebihan dalam membedakan aspek tempat. Mereka membuat klasifikasi khusus mengenai ayat apa saja yang diturunkan di antara Mekah dan Madinah dalam perjalanan-perjalanan Rasulullah saw. ayat apa saja yang diturunkan setelah hijrah, sewaktu melakukan penaklukan ata haji. Mereka juga eberikan perhatiannya terhadap ayat apa saja yang diturunkan diluar Mekah dan Madinah, ayat apa saja yang diturunkan di atas gunung di antara langit dan bumi, ayat apa saja yang diturunkan di dalam gua di bawah tanah. Mereka juga membuat perbedaan antara ayat yang diturunkan ketika dalam perjalanan (safari) dan tidak dalam perjalanan (hadhari), antara ayat-ayat yang diturunkan pada malam dan siang hari dan ayat yang diturunkan di langit dan bumi.[8]

D.  Contoh Mengenai Ayat Makkiyyah dalam Surat Madaniyyah dan Sebaliknya
1.    Ayat Makkiyyah dalam surat Madaniyyah:
a.       Surat al-Anfal Madaniyyah, kecuali:
Al-Anfal: 30, yaitu:
øŒÎ)ur ãä3ôJtƒ y7Î/ z`ƒÏ%©!$# (#rãxÿx. x8qçGÎ6ø[ãŠÏ9 ÷rr& x8qè=çGø)tƒ ÷rr& x8qã_̍øƒä 4 tbrãä3ôJtƒur ãä3ôJtƒur ª!$# ( ª!$#ur çŽöyz tûï̍Å6»yJø9$# ÇÌÉÈ  
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.”


Di istimewakan dari hal itu dalam firman-Nya:
$pkšr'¯»tƒ ÓÉ<¨Z9$# šç7ó¡ym ª!$# Ç`tBur y7yèt7¨?$# z`ÏB šúüÏZÏB÷sßJø9$# ÇÏÍÈ  
“Hai Nabi (Muhammad), cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.”(al-Anfal: 64)

2.    Ayat Madaniyyah dalan surat Makkiyyah
a.       Surat al-An’aam ialah Makkiyyah, selain tiga ayatnya yang diturunkan di Madinah, yaitu:
* ö@è% (#öqs9$yès? ã@ø?r& $tB tP§ym öNà6š/u öNà6øŠn=tæ ( žwr& (#qä.ÎŽô³è@ ¾ÏmÎ/ $\«øx© (
“Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia.”(al-An’aam: 151)

b.      Surat al-Hajj ialah Makkiyyah, kecuali tiga ayat yang diturunkan di Madinah, yaitu dari permulaan ayatnya nomor: 19 sampai akhir ketiganya:
* Èb#x»yd Èb$yJóÁyz (#qßJ|ÁtG÷z$# Îû öNÍkÍh5u ... مِـنْ حَـدِيْـدٍ
" Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka… dari besi.” (al-Hajj: 19-211)







BAB II
KESIMPULAN

Setelah menyelesaikan beberapa pokok tentang Makkiyyah dan Madaniyyah maka penulis dapat menyimpulkan bahwa:
1.    Makkiyyah adalah ayat/surat yang diturunkan sebelum hijrah dan Madaniyyah adalah yang diturunkan sesudah hijrah, baik turun di Mekah ataupun di Madinah pada tahun penaklukan (Makah) atau haji wada’ atau dalam suatu perjalanan.
2.    Secara umum ayat dan surat Makkiyyah pendek-pendek sedangkan ayat dan surat Madaniyyah adalah panjang-panjang.
3.    Sebagian besar ayat/surat Makkiyyah terdapat seruan ya ayyuhan naasu kecuali surat al-Baqarah dan surat an-Nisa’ di dalamnya terdapat seruan ya ayyuhan naas padahal surat ini tergolong surat Madaniyyah. Sedangkan ayat/surat Madaniyyah terdapat seruan ya ayyuhallazina amanu kecuali surat al-Hajj yang akhirnya terdapat ya ayyuhal ladzina amanu irka’u wasjudu padahal surat ini tergolong surat Makkiyah.
(Mohon Maaf tidak bisa di  tampilkan SKEMAnya dari semua makalah)

DAFTAR PUSTAKA

Abu Zaid, Nasr Hamid, Tektualitas al-Qur’an, cet; I, Yogyakarta: LKIS, 2001.

Anwar, Rosihon, Ulum al-Qur’an, cet; I, Bandung: Pustaka Setia, 2008.

Masyur, Kahar, Ulumul Qur’an, cet; I, Jakarta: Rineka Cipta, 1992.

Syadali, Ahmad dan Ahmad Rafi’i, Ulumul Qur’an, Bandung: Pustaka Setia, 2006.
 

[1] Rosihon Anwar, Ulum al-Qur’an, cet; I, Bandung: Pustaka Setia, 2008, h. 102.
[2] Ahmad Syadali dan Ahmad Rafi’i, Ulumul Qur’an, Bandung: Pustaka Setia, 2006, h. 81.
[3] Ibid., h. 81
[4] Ibid., h. 82.
[5] Ibid.
[6] Kahar Masyur, Ulumul Qur’an, cet; I, Jakarta: Rineka Cipta, 1992 h. 75.
[7] Nasr Hamid Abu Zaid, Tektualitas al-Qur’an, cet; I, Yogyakarta: LKIS, 2001, h . 88-89.
[8] Ibid.,h. 89

No comments:

Post a Comment