Welcome to www.jamal.com
go to my homepage
Go to homepage
WELLCOME TO SITUS LO HULONDHALO
Showing posts with label Bahan Kuliah. Show all posts
Showing posts with label Bahan Kuliah. Show all posts

Wednesday, April 12, 2017

Efektivitas Pelayanan Administrasi

Untuk mengukur keberhasilan atau efektivitas pelayanan kepada masyarakat, menurut Suhady (2000:25) yaitu pelayanan yang berkualitas terdiri dari empat faktor, yang dijelaskan oleh penulis sebagai berikut :
    1)      Ketepatan, yaitu petugas yang melayani memberikan atau melakukan pelayanan yang  sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh yang dilayani;
Ketepatan pelayanan merupakan isyarat bahwa masyarakat berhak mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhannya, dan petugas pun dengan lebih rinci dan akurat berupaya mengadakan hal tersebut. Ketepatan dalam pelayanan untuk memastikan kepada konsumen bahwa yang diberikan oleh petugas pelayanan dapat diterima dengan baik tanpa adanya keluhan sedikitpun.
2)      Kecepatan, yaitu petugas yang melayani memberikan dan melakukan pelayanan secara tepat waktu agar yang dilayani tidak merasa jenuh;
Kecepatan yang dimaksud adalah kegiatan pelayanan yang tidak menyulitkan masyarakat dengan harus menunggu lama, waktu yang tidak terbuang sia-sia dalam hal pengurusan sesuatu hal. Kecepatan bukan berarti terburu-buru dalam melayani konsumen, akan tetapi dimaksudkan agar pelayanan tersebut tepat waktu sesuai target konsumen.
3)      Keramahan, yaitu petugas yang melayani memperlakukan yang dilayani dengan sopan dan beretika;
Berkaitan dengan etika pelayanan petugas dalam hal ini pegawai dalam melayani masyarakat, senyum kepada masyarakat dan tidak mengeluarkan amarah bila masyarakat tersebut bertanya tentang sesuatu yang belum dimengerti.
4)      Murah, yaitu yang dilayani merasa tidak terbebani atas pelayanan yang diberikan.
        Murah dalam hal ini dapat dijangkau oleh masyarakat pada umumnya tentang biaya yang dibebankan pada layanan tersebut. Pelayanan yang murah dapat memicu kepuasan masyarakat tentang kualitas pelayanan yang diberikan oleh pegawai. Murah dan tidak membebani masyarakat tujuannya agar masyarakat merasa terbantukan dengan pelayanan yang diberikan.

Rujukan diatas dapat dijadikan indikator pelayanan administrasi**
Sumber:

Suhady, Idup, 2000, Kebijakan Pendayagunaan Aparatur Negara, Jakarta : LAN Republik Indonesia

Abdul Rauf Mayang., SE., MM. Efektivitas Pelayanan Administrasi pada Masyarakat. (artikel online) Gorontalo: Pondok Mahasiswa.


Indikator Akuntabilitas Pelayanan Publik

David Hulme dan Mark Turney mengemukakan bahwa akuntabilitas merupakan suatu konsep yang kompleks dan memiliki beberapa instrumen untuk mengukurnya terdiri dari 6 indikator (Raba, 2006:115), yaitu adanya indikator penulis uraikan sebagai berikut:
(1) Legitimasi bagi para pembuat kebijakan;
  Legitimasi dianggap penting bagi pemimpin pemerintahan, karena para pemimpin pemerintahan dari setiap sistem politik berupaya keras untuk mendapatkan atau mempertahankannya. Dengan adanya legitimasi yang dimiliki oleh seorang pemimpin dapat menimbulkan kestabilan politik dan memungkinkan terjadinya perubahan sosial dan membuka kesempatan yang semakin besar bagi pemerintah untuk tidak hanya memperluas bidang-bidang kesejahteraan yang hendak ditangani, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas kesejahteraan.
Legitimasi juga merupakan konsep yang menimbulkan hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin. Legitimasi dapat diartikan dalam arti luas dan arti sempit, dalam arti luas adalah dukungan masyarakat terhadap sistem politik, sedangkan dalam arti sempit merupakan dukungan masyarakat terhadap pemerintah yang berwenang. Antara kekuasaan normatif dan kualitas pribadi berkaitan erat dengan legitimasi. Legitimasi juga merupakan suatu tindakan perbuatan hukum yang berlaku, atau peraturan yang ada, baik peraturan hukum formal, etnis, adat-istiadat, maupun hukum kemasyarakatan yang sudah lama tercipta secara sah. Jadi, dalam legitimasi kekuasaan, bila seorang pemimpin menduduki jabatan dan memiliki kekuasaan secara legitimasi (legitimate power) adalah bila yang bersangkutan dianggap absah memangku jabatannya dan menjalankan kekuasaannya.
(2) Keberadaan kualitas moral yang memadai;
            Kualitas moral erat kaitannya dengan pelayanan yang ramah kepada masyarakat dengan mengacu pada sikap, senyum aparat dalam melayani kebutuhan masyarakat.
(3) Kepekaan;
            Kepekaan merupakan sikap para aparatur pemerintahan, terhadap aspirasi masyarakat agar terciptanya kondisi masyarakata yang berpartisipasi dalam kegiatan. Kepekaan dalam pelayanan publik berhubungan erat dengan kepekaan para aparat dalam menerima saran dan kritik maupun aspirasi dari masyarakat ketika meminta pelayanan.
(4) Keterbukaan;
            Keterbukaan erat kaitannya dengan loyalitas kerja berupa kejujuran aparat dalam melakukan pelayan kepada masyarakat. Keterbukaan dalam pelayanan dimaksudkan agar proses pelayanan tersebut dapat diketahui oleh masyarakat.
(5) Pemanfaatan sumber daya secara optimal;
        Yaitu mendayagunakan seluruh kemampuan aparat dan prasarana yang tersedia guna mendukung pelayanan kepada masyarakat.
(6) Upaya peningkatan efisiensi dan efektivitas 
          Mengimplementasikan kebijakan sudah dilaksanakan dengan efektif dan efisien dengan memperhatikan kebijakan dalam pelayanan dan penerapannya pada masyarakat. Acuan pelayanan yang dipergunakan aparat birokrasi dalam proses penyelenggaraan pelayanan publik. Indikator tersebut mencerminkan prinsip orientasi pelayanan yang dikembangkan oleh birokrasi terhadap masyarakat pengguna jasa.

Sumber:

Dr. H. Manggaukang Raba, “Akuntabilitas: konsep dan Implementasi”, (Cet. I ; Malang: UMM
Press,2006), h. vii.

Abdul Rauf Mayang., SE., MM. Indikator Akuntabilitas Pelayanan Publik. (artikel online) Gorontalo: Pondok Mahasiswa.






Monday, June 2, 2014

Tinjauan Umum Tentang Gastritis



  Gastritis adalah peradangan pada lapisan lambung atau suatu penyakit yang ditandai suatu iritasi atau infeksi atau peradangan pada dinding mukosa lambung sehingga dinding lambung menjadi merah, bengkak, berdarah dan luka. Definisi lain menyebutkan bahwa gastritis merupakan proses inflamasi pada lapisan mokosa dan sub mukosa lambung. Gastritis merupakan salah satu penyakit yang paling banyak dijumpai diklinik penyakit dalam pada umumnya. Peradangan lambung bisa terjadi secara mendadak atau menahun. Gangguan ini adalah yang paling sering menyerang pada lambung. Namun, perlu dibedakan dengan luka pada lambung (tukak).
1. Etiologi
                  Gastritis atau radang lambung umumnya terjadi akibat adaya stress dan tekanan emosional yang berlebihan pada seseorang. Adanya asam lambung dan pepsin yang berlebihan karena menurunnya kemampuan fungsi mukosa lambung waktu makan yang tidak teratur, sering terlambat makan, makan berlebihan, terlalu banyak makan yang pedas, asam minuman alkohol dan obat-obatan tertentu dengan dosis tinggi. Lapisan lambung dapat mengalami iritasi dan peradangan karena beberapa penyebab yaitu:
a.       Gastritis Bacterialistis biasanya merupakan akibat dari infeksi oleh helico bacter pylori (bakteri yang tumbuh dalam sel penghasil lendir di lapisan lambung ).
b.      Gastritis karena stres akut, merupakan jenis gastritis yang paling berat yang di sebabkan oleh penyakit berat atau trauma yang terjadi secara tiba-tiba.
c.       Gastritis erosif kronis bisa merupakan akibat dari bahan iritan seperti obat-obatan, terutama aspirin dan obat anti peradangan nonsteroid lainnya, penyakit crohn, infeksi virus dan bakteri. Gastritis ini terjadi secara perlahan-lahan pada orang-orang yang sehat, bisa di sertai dengan perdarahan atau pembentukan ulkus. Paling sering terjadi pada alkoholik.
d.      Gastritis karena virus atau jamur bisa terjadi pada penderita penyakit menahun atau penderita yang mengalami ganguan sistim kekebalan.
e.       Gastritis Eosinofilik bisa terjadi sebagai akibat dari reaksi alergi terhadap investasi cacing gelang.
f.       Gastritis Atrofik terjadi jika anti bodi menyerang lapisan lambung, sehingga lapisan lambung menjadi sangat tipis dan kehilangan sebagian atau seluruh selnya yang menghasilkan asam dan enzim. Keadaan ini biasanya terjadi pada usia lanjut. Gastritis atrofik bisa menyebabkan anemia pernisiosa karena mempengaruhi penyerapan vitamin B12 dari makanan ( Arif, 2001 )
2.  Manifestasi Klinik
      Secara umum penyakit radang lambung mempunyai beberapa gejala yaitu mual dan sering muntah, perut terasa nyeri, pedih (kembung dan sesak) pada bagian atas perut, napsu makan menurun secara drastis, wajah pucat, suhu badan naik, keluar keringat dingin dan sering sendawa terutama dalam keadaan lapar karena ganguan rasa sakit pada daerah perut. Gejala tergantung pada penyebab gastritisnya. Gejala gastritis biasanya terjadi dalam waktu 5-10 hari. Gejala lain dari gastritis erosif kronis berupa mual ringan dan nyeri perut di sebelah atas. Tetapi banyak penderita (misalnya pemakai aspirin jangka panjang) tidak merasakan nyeri. Sedangkan gastritis yang perdarahan dari usus lambung gejalanya berupa tinja berwarna kehitaman seperti aspal dan muntah darah atau makanan yang sebagian sudah di cerna yang merupakan endapan kopi.
3.  Pencegahan Penyakit Gastritis
            Penyakit gastritis dapat di tangani dengan langkah awal yaitu mengkonsumsi makanan lunak dalam porsi yang kecil, berhenti mengkonsumsi makanan yang pedas dan asam, dan berhenti merokok serta minuman beralkohol selain itu juga kita dapat minum antasida sekitar setengah jam sebelum makan. Pencegahan lain yang dapat di lakukan untuk penyakit gastritis adalah:
a.       Mengurangi produksi asam lambung atau menghindari terlambat makan, stres dan makanan serta minuman yang dapat menimbulkan asam lambung  seperti kopi, coklat dan makanan yang mengandung asam.
b.      Hati-hati  pengunaan obat-obatan penghilang rasa nyeri dan jangan di makan pada saat perut kosong.
c.       Pola hidup yang teratur, makan dan tidur yang teratur, banyak berolah raga sebab untuk menguatkan asam lambung. 
d.   Hindari makanan yang langsung merusak dinding lambung seperti makanan yang mengandung cuka, merica dan bumbu-bumbu yang merangsang (Endang, 2001).

Thursday, May 29, 2014

Perlunya Kecerdasan Emosional dan Spritual Bagi Personil Brimob Gorontalo



Brimob memiliki sejarah panjang sebagai suatu kesatuan yang berbeda dari polisi reguler. Brimob juga menjadikan dirinya terkenal dalam usahanya melawan pemberontak di masa-masa awal berdirinya Republik Indonesia. Kedua faktor ini dapat berarti dua hal: Pertama, reformasi dilakukan untuk lebih mengintegrasikan Brimob ke dalam Polri. Kedua, melikuidasi peran lawan insurgensi yang dimiliki Brimob selama ini walaupun bertentangan dengan budaya institusional.
Staf dan asisten yang terdapat dalam organisasi Brimob dibagi dalam beberapa bagian sebagai berikut : a) Bagian Perencanaan ; b) Bagian Intelijen ; c) Bagian Pelaksana ; d) Bagian Personil ; e) Bagian Logistik.
Selain itu terdapat staf pelayanan dan pendukung, yang terdiri dari seksi komunikasi dan elektronik; seksi kesehatan dan kesamaptaan; seksi propam (yang menangani masalah akuntabilitas profesi serta pengamanan internal) dan seksi administrasi. Unsur Pelaksana Utama di Brimob adalah sebagai berikut: a) Unit I – Gegana; b) Unit II – Pelopor; c) Unit III – Pelopor; d) Pusat Pelatihan (Puslat).
Unsur pelaksana utama adalah kekuatan utama di balik aktivitas Brimob di seluruh Indonesia. Mereka adalah personil yang diterjunkan di lapangan, untuk melakukan penjagaan ketika terjadi demonstrasi di jalan-jalan di berbagai kota di Indonesia ataupun untuk memerangi gerakan separatisme di hutan.
Unit Gegana terdiri dari empat detasemen yang masing-masingnya terdiri dari 13 sub-detasemen. Keempat detasemen Gegana ini terbagi lagi dalam tugas-tugas tertentu : a) Detasemen A/Satuan Intelijen- Reserse Mobil; b) Detasemen B/Satuan Bom-Bahan Peledak ; c) Detasemen C/Satuan Anti-Teror ; d) Detasemen D/Satuan Tugas Khusus.
Bagian dari personil Brimob, tim anti-bom Gegana, ditempatkan di semua markas tingkat provinsi di bawah perintah Kepala Polisi Daerah (Kapolda). Dengan adanya kepentingan untuk mencegah serangan teroris, disarankan personil Gegana juga ditempatkan sampai ke tingkat kabupaten atau Polres. Selanjutnya, terdapat pula dua satuan Pelopor yang masing-masing terdiri dari empat detasemen. Detasemen ini terdiri dari 40 kompi (setiap kompi terdiri dari kurang lebih 100 personil) dengan kualifikasi pelopor/ranger.
Menurut pasal 2 Surat Keputusan Kepala Polri (Skep Kapolri) No. Pol. KEP/53/X/2002 mengenai Brimob: Korps Brimob ditugaskan untuk menjaga keamanan, terutama yang berhubungan dengan penanganan ancaman dengan intensitas tinggi, dalam usahanya untuk mendukung keamanan dalam negeri. Tugas dan fungsi utama dijelaskan lebih lanjut dalam pasal-pasal di dalam Surat Keputusan tersebut, khususnya yang berkaitan dengan Unsur Pelaksana Utama, dan lebih spesifik yakni pada satuan Gegana dan Pelopor.
Gegana, berdasarkan perintah dari Komandan Brimob, dapat bertindak dalam menghadapi pelanggaran keamanan berat, terutama kejahatan terorganisir yang menggunakan senjata api dan bahan peledak ataupun yang melakukan serangan teror berskala nasional ataupun internasional. Pelopor, berdasarkan perintah dari Komandan Brimob, bertanggung jawab untuk pengendalian ketertiban publik dan perlawanan insurgensi, dalam mendukung keamanan dalam negeri. 
Berdasarkan bukti empiris Kejadian di Provinsi Gorontalo adanya kejadian  oknum Anggota baru Brimob Gorontalo yaang mabuk dan bertindak premanisme dengan membuat kericuhan di salah satu rumah warga (Kel.Dulomo) yang mengancam memakai pisau (Badik). Tentu mengundang banyak perhatian masyarakat sekitar tentang tugas dan fungsi Brimob tersebut, belum lagi perekrutan anggota baru kepolisian menuai banyak protes tentang perlunya tes kecerdasan emosional agar  tugas dan fungsi kepolisian umumnya sebagai pengayom masyarakat dapat terwujud. Disamping itu tentu selama ini tidak dapat dipungkiri bahwa kinerja Brimob Polda Gorontalo telah efektif karena tingkat keamanan masyarakat gorontalo relatif kondusif.
Berkaitan dengan hal ini maka Brimob juga dituntut tidak hanya mampu menyelesaikan permasalahan dengan kecerdasan IQ dan EQ tetapi yang lebih penting SQ. Hal ini karena IQ dan EQ hanya mampu menyelesaikan permasalahan atas rasionalitas dan kemampuan memahami lingkungan sosial, sedangkan SQ memiliki makna bahwa apa yang dilakukan, tugas yang dikerjakan adalah sebagai bentuk ibadah. Melalui SQ ini, satuan Brimob diharapkan akan menyadari bahwa tugas dan tanggungjawab sebagai abdi negara semata-mata ditujukan hanya kepada Allah SWT, sehingga dengan kesadaran ini akan lahir pribadi-pribadi anggota Brimob yang ahli dalam bidangnya, memiliki emosi yang stabil sekaligus memiliki tujuan da arah yang jelas. Akhirnya Peran Pembina Rohani dan Mental Dalam Pengembangan Kecerdasan Emosional Dan Spritual Bagi Personil Brimob Gorontalo mulai digalakkan sejak dini.


Tuesday, May 27, 2014

IMPLEMENTASI PROGRAM PENGEMBANGAN PROFESI GURU



Belakangan ini profesi guru banyak dibicarakan bahkan mungkin dipertanyakan eksistensinya, baik oleh pakar pendidikan maupun para pakar di luar dunia pendidikan. Fenomena ini sebetulnya sangat eronis, namun kondisi obyektif di lapangan  ternyata tak terbantakan. Terlepas benar tidaknya pembicaraan ini, yang jelas media masa baik mingguan maupun bulanan banyak memuat tentang guru. Dan bahkan cenderung melecehkan posisi guru, baik yang sifatnya kepentingan umum sampai kepada hal-hal yang sangat pribadi
Eksistensi Guru dalam dunia pendidikan agar merupakan suatu hal yang sangat urgen dalam keberhasilan peserta didik. Untuk menjadi guru yang berkompoten tidak semudah membalik telapak tangan, namun harus melalui jalan dan proses yang panjang dan bertahap serta tidak hanya memiliki spesialis ilmu pengetahuan saja, tetapi juga harus mengetahui ilmu tentang perkembangan psikologi peserta didik. Rendahnya profesionalisme guru dalam menyikapi sebuah realitas yang serba membutuhkan kemampuan dalam dedikasi, tentunya akan mengurangi minat siswa untuk memasuki sebuah lembaga pendidikan yang dapat memberikan nilai plus dalam dunia pendidikan yang berkualitas.
Ironisnya berita-berita tersebut cenderung melecehkan posisi guru, baik yang sifatnya menyangkut kepentingan umum sampai kepada hal-hal yang bersifat pribadi. Sementara di masyarakat ataupun orang tua murid pun kadang menuding bahwa guru tidak kompeten, tidak berkualitas dan sebagainya manakala putra-putri mereka tidak bisa menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi atau memiliki kemampuan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Padahal kalau ditelusuri lebih jauh, proses pendidikan itu sendiri menyimpan kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan keseluruhan aspek lingkungan hidup dan sangat memberikan informasi yang paling berharga mengenai pegangan hidup masa depan, serta membantu anak didik dalam mempersiapkan kebutuhan hidup yang esensial demi menghadapi perubahan.
Namun dengan pandangan optimis terhadap pendidikan itu saja tidak cukup, sebab untuk mencapai cita-cita yang terkandung dalam pendidikan masih banyak ditentukan oleh visi kebijakan dan pengambilan keputusan dalam proses pengembangan pendidikan itu sendiri.
Urgensi tenaga mengajar dalam pengembangan sumber daya manusia, bukan hanya pada aspek kompetensi kognitif atau interpersonal skills, melainkan juga membantu anak didik dalam melapangkan jalan menuju perubahan positif seluruh ranah kejiwaannya. Sebab secanggih apapun suatu kurikulum dan sehebat apapun  sistem  pendidikan,  tanpa  kualitas  guru  yang  baik,  maka  semua  itu  tidak  akan  membuahkan  hasil  yang  maksimal.  Oleh  karena  itu,  guru  diharapkan  memiliki kompetensi  yang  diperlukan  untuk  melaksanakan  tugas  dan  fungsinya  secara efektif dan efisien.
Kompetensi  merupakan  salah  satu  kualifikasi  guru  yang  terpenting.  Bila kompetensi ini tidak ada pada diri seorang guru, maka ia tidak akan berkompeten dalam melakukan tugasnya dan hasilnya pun tidak akan optimal. 
Adapun dalam hal peningkatan profesi guru telah berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah khususnya Departemen Pendidikan Nasional diantaranya melalui program pengembangan profesi guru, yaitu memberikan dorongan yang menggairahkan kepada guru untuk melakukan upaya pengembangan keprofesiannya berkelanjutan meningkatkan tugas dan tanggung jawab profesinya.