Welcome to www.jamal.com
go to my homepage
Go to homepage
WELLCOME TO SITUS LO HULONDHALO
Showing posts with label Hadits Tarbawi. Show all posts
Showing posts with label Hadits Tarbawi. Show all posts

Thursday, June 2, 2011

Hadits nabi Muhammad Saw tentang penciptaan dan pertumbuhan manusia


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
             Dengan semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, maka seakan-akan tidak ada lagi hal yang tidak akan ditemukan kebenarannya dimuka bumi ini. Termasuk juga mengenai penciptaan manusia dan pertumbuhannya. Namun yang menjadi hal yang meresahkan sekaligus menyakitkan bagi kita umat muslim, yakni pada kenyataannya semua penemuan-penemuan itu jarang ditemukan oleh orang-orang muslim melainkan ditemukan oleh orang-orang non-muslim. Terlebih lagi, mereka selalu menganggap bahwa semua penemuan itu hasil dari jerih-payah mereka sendiri.
             Padahal kalau kita kaji, banyak penemuan-penemuan baru yang sebenarnya hal itu telah disampaikan oleh nabi Muhammad Saw berabad-abad yang lalu. Sala satu bukti bahwa penemuan-penemuan yang dikowar-kowarkan oleh orang-orang non-muslim bahwa itu merupakan penemuan mereka yakni tentang pertumbuhan manusia. Bahwa yang mana hal itu telah disabdakan nabi Muhammad Saw yang nanti akan penulis jelaskan dalam makalah ini.
             Itulah yang menjadi latar belakang penulis menyusun makalah ini, agar nantinya dapat memberikan pengetahuan atau dapat merevieu kembali ingatan kita orang-orang muslim bahwa sesungguhnya sebelum orang-orang non-muslim yang menemukan hal ini, terlebih dahulu adalah kita orang-orang muslim.
1.2. Permasalahan
             Dari hal diatas, akan timbul permasalahan-permasalahan yang signifikan, yang tentunya akan memerlukan jawaban yang tidak asal-asalan. Yaitu: Bagaimanakah bunyi sabda nabi Muhammad Saw tentang penciptaan dan pertumbuhan manusia? lalu bagaimanakah kedudukan hadits itu? serta apa kandungan hadits tersebut? Hal-hal inilah yang akan penulis bahas dalam makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Hadits Tentang Penciptaan dan Pertumbuhan Manusia[1]
Rosullulah Saw bersabda :
ﻋﻥﺃﺒﯽﻋﺒﺩﺍﻟﺭﺤﻣﻥﻋﺒﺩﷲ ﺒﻥ ﻤﺳﻌﻭﺪ ﺮﻀﻰﷲﻋﻧﻪ ﻘﺎﻞ
ﺤﺩﺜﻧﺎ ﺮﺴﻭﻞ ﷲ ﻮﻫﻭﺍﻠﺻﺎﺪﻖﺍﻠﻤﺻﺪﻮﻖ ﺇﻦ ﺃﺤﺩﻜﻡ ﯿﺟﻤﻊ ﺨﻟﻗﻪ ﻔﻰﺒﻄﻥﺃﻤﻪ ﺃﺭﺒﻌﻳﻥ ﻴﻮﻤﺎ
ﺜﻡ ﻳﻜﻭﻥ ﻔﻰﺬﻠﻙ ﻋﻠﻗﺔ ﻤﺛﻝﺬﻠﻙ ﺜﻡ ﻳﻜﻭﻥ ﻔﻰﺬﻠﻙ ﻤﺿﻐﺔ ﻤﺛﻝﺬﻠﻙ
ﺜﻡ ﻴﺭﺴﻝﺍﻟﻣﻟﻙ ﻔﻳﻧﻓﺦ ﻓﻳﻪ ﺍﻟﺭﻭﺡ ﻭﻴﺆﻤﺭ ﺑﺄﺮﺑﻊ ﻛﻠﻤﺎﺕ ﺒﻜﺘﺐ
ﺭﺯﻗﻪ ﻮﺃﺟﻠﻪ ﻮﻋﻤﻠﻪ ﻮﺷﻗﻲ ﺃﻮ ﺳﻌﻴﺪ ﻓﻮﺍﻠﺬﻯ ﻻﺇﻟﻪ ﻏﻴﺮﻩ
ﺇﻥ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻟﻴﻌﻤﻞ ﺑﻌﻤﻞ ﺃﻫﻞﺍﻟﺠﻨﺔ ﺣﺗﻰ ﻣﺎﻳﻜﻮﻦ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻨﻬﺎ ﺇﻻﺫﺭﺍﻉ ﻓﻴﺳﺒﻖﻋﻠﻴﻪ ﺍﻠﻜﺘﺎﺏ
ﻓﻴﻌﻤﻞ ﺑﻌﻤﻞ ﺃﻫﻞﺍﻠﻨﺎﺮ ﻓﻴﺪﺧﻠﻬﺎ
ﻮﺇﻥ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻟﻴﻌﻤﻞ ﺑﻌﻤﻞﺃﻫﻞﺍﻠﻨﺎﺮ ﺣﺗﻰ ﻣﺎﻳﻜﻮﻦ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻨﻬﺎ ﺇﻻﺫﺭﺍﻉ ﻓﻴﺳﺒﻖﻋﻠﻴﻪ ﺍﻠﻜﺘﺎﺏ
ﻓﻴﻌﻤﻞ ﺑﻌﻤﻞ ﺃﻫﻞﺍﻟﺠﻨﺔ ﻓﻴﺪﺧﻠﻬﺎ[2]
Artinya
Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata
Bahwa Rosullulah Saw bersabda dan beliau yang benar dan dipercaya
Sesungguhnya kalian semua akan dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nuthfah (sperma)
Kemudian menjadi alaqah (segumpal darah) selama itu juga kemudian menjadi mudhghah (embrio) selama itu juga
Kemudian diutus malaikat untuk meniupkan ruh padanya lalu diperintahkan untuk menuliskan empat kalimat
Rezekinya, ajalnya, amalnya dan celaka atau bahagianya maka demi Allah yang tiada tuhan selain Dia
Ada salah seorang di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali tinggal sehasta kemudian ia didahului oleh ketetapan Alah
Lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka maka ia pun masuk neraka.
Dan ada salah seorang di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali tinggal sehasta kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah
Lalu ia melakukan perbuatan ahli surga maka ia pun masuk surga.[3]
            Hadits diatas merupakan salah satu dari banyak hadits yang menjelaskan tentang proses penciptaan dan pertumbuhan manusia.
2.2. Kedudukan Hadits Tentang Penciptaan dan Pertumbuhan Manusia
Hadits diatas merupakan hadits agung yang keshahihannya telah terjamin karena diriwayatkan oleh dua Imam besar yakni Imam Bukhari dan Imam Muslim dan berisi hal yang mencakup semua keadaan manusia dari mulai awal penciptaan, kedatangan ke dunia hingga akirnya masuk surga (tempat kebahagiaan) atau masuk neraka (tempat kesengsaraan) sesuai amalnya di dunia dan sesuai dengan ilmu, qada dan takdir Allah[4].
2.3. Kandungan Hadits Tentang Penciptaan dan Pertumbuhan Manusia
Kalau kita melihat secara sepintas, maka yang akan terlihat bahwa hadits di atas masih bersifat universal. Namun jika di lihat lebih jauh lagi dengan memakai metode pendekatan psikologi, maka kita akan menemukan beberapa kandungan yang sangat luar biasa yang dapat menyadarkan kita tentang diri kita sendiri.
Hal-hal yang akan kita temukan jika kita melihat lebih jauh lagi dengan memakai metode pendekatan psikologi antara lain yakni sebagai berikut :

Fase perkembangan janin di rahim.
       Hadits ini menunjukan bahwa janin diciptakan selama seratus dua puluh hari dalam tiga tahapan. Dimana setiap tahapan adalah selama empat puluh hari. Pada empat puluh hari pertama berupa nuthfah, pada empat puluh hari yang ke-dua berupa ‘alaqah, pada empat puluh hari yang ke-tiga berupa mudhghah dan pada hari yang ke-seratus dua puluh malaikat meniupkan ruh kepadanya, lalu dituliskan baginya empat kalimat[5]. Allah Swt menyebutkan dalam kitab-Nya bahwa janin diciptakan dalam fase-fase tersebut, sebagaimana dalam firman-Nya :
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur) maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging.”[6]
       Dalam firman-Nya yang lain juga Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk lain). Maka Mahasuci Allah pencipta yang paling baik.”[7]
       Dalam ayat diatas, Allah menyebutkan empat fase yang disebutkan dalam hadits, lalu menambahkan dengan tiga fase lainnya sehingga menjadi tujuh fase. Ibni Abbas bekata “Adam diciptakan dalam tujuh fase” kemudian ia membaca ayat ini. Jadi untuk tujuh fase itu hanya dikhususkan oleh Allah kepada Nabi Adam As.
F Ditiupnya ruh.
Para ulama telah bersepakat bahwa ruh ditiupkan ke dalam janin ketika/setelah janin berumur seratus dua puluh hari terhitung sejak mulai terjadinya pembuahan. Yaitu ketika usia kehamilan sudah empat bulan dan memasuki bulan yang ke-lima.
Semua itu benar berdasarkan realita yang dapat disaksikan, maka semenjak itu ditetapkan hukum-hukum untuk memenuhi kebutuhannya seperti hukum tentang penyandraan nasabnya dan kewajiba pemberian nafkah. Dan hal ini diyakini dengan bergeraknya janin di dalam rahim. Inilah hikmah mengapa istri yang di tinggal suaminya, masa iddahnya selama empat bulan sepuluh hari. Alasannya ialah untuk meyakini bahwa rahimnya benar-benar kosong dari janin tanpa ada sedikitpun tanda-tanda kehamilan.
F Haramnya menggugurkan kandungan
Para ulama telah bersepakat atas haramnya menggugurkan kandungan (aborsi) sebelum dan setelah ditiupkannya ruh kedalam janin. Hal ini dipandang sebagai tindakan kriminal yang haram untuk dilakukan oleh seorang muslim. Karena hal ini merupakan pengingkaran sekaligus penolakan penciptaan makhluk sempurna di dalam rahim dan pembunuhan bagi nyawa yang tidak berdosa tersebut.
F Ilmu Allah Swt
Sesungguhnya Allah Swt mengetahui keadaan makhluk sebelum penciptaannya. Maka, tidak ada satu keadaanpun baik itu berupa iman, taat, kafir, maksiat, bahagia, celaka, dan sebagainya kecuali semuanya diketahui oleh Allah dan berdasarkan kehendak-Nya. Banyak nash dan kitab yang menjelaskan hal ini diantaranya ialah :
“Dari Ali bin Abi Tholib Ra dari Nabi Saw bersabda : tidak ada makhluk yang bernafas kecuali Allah telah menentukan tempatnya di surga atau di neraka, telah dituliskan celaka atau bahagia.”[8]
Namun ilmu Allah tidak menghalangi kebebasan hamba dalam memilih dan meraih apa yang mereka inginkan. Karena ilmu Allah merupakan sifap yang tidak memiliki pengaruh. Bukti kebebasan itu ialah bahwa Allah memerintahkan untuk berbuat baik dan melarang untuk berbuat jahat.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari semua hal yang sudah penulis utarakan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :
F Manusia hadir di dunia ini karena ada interfensi dari Allah.
F Manusia sebagai makhluk yang sempurna tidak diciptakan dengan asal-asalan saja.
F Sebelum manusia lahir kedunia ini semua ketetapannya, baik itu berupa iman, taat, kafir, maksiat, bahagia, celaka, dan sebagainya semuanya telah ditentukan oleh Allah Swt.
F Manusia diciptakan oleh Allah pada umumnya melalui tiga tahapan yakni tahapan yang masih berupa  nuthfah (sperma) selama 40 hari, kemudian berupa alaqah (segumpal darah) selama 40 hari, kemudian berupa mudhghah (embrio) selama 40 hari juga, kemudian ditiupkan ruh.
3.2. Kritik dan Saran
Penulis sangat menyadari bahwa di dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan maka dari itulah kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis butuhkan untuk perbaikan di kemudian hari.
Wawllahu Alam bi Shawab…..


DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran dan Terjemahannya, wakaf dari pelayan dua tanah suci, Raja Abdullah bin Abdul Aziz Ali Sa’ud.
Abd. Dahlan, Aminah. Hadits Arba’in Annawawiyah : dengan terjemah Bahasa Indonesia, Bandung : Al-Ma’arif, 1985.
Al-Bugha. Musthafa Dieb. Dr. dan Mistu, Muhyiddin. Syaikh.  Al-Wafi : Syarah Hadits Arba’in Imam An-Nawawi, Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsar, 1993.
A. Partanto, Pius dan Al-Barry, M. Dahlan. Kamus Ilmiah Populer, Surabaya : Arkolo, 1994.
Kitab Shahih Bukhari.
Kitab Shahih Muslim.


[1] Hadits Arba’in yang ke-4 tentang Tahapan Penciptaan Manusia dan Akhir Kehidupannya.
[2] Dr. Musthafa Dieb Al-Bugha dan Syaikh Muhyiddin Mistu, Al-Wafi : Syarah Hadits Arba’in Imam An-Nawawi (Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsar, 1993), h. 22-23.
[3] Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari pada Bab Awal Penciptaan (Bab Penyebutan Malaikat) No. 3036. Dan Qadar para Nabi. Shahih Muslim pada awal kitab Al-Qadar (Bab Bagaimana Penciptaan Adam) No. 2643.
[4] Dr. Musthafa Dieb Al-Bugha dan Syaikh Muhyiddin Mistu, Al-Wafi : Syarah Hadits Arba’in Imam An-Nawawi (Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsar, 1993), h. 23.
[5] Tahapan-tahapan penciptaan manusia dalam rahim.
[6] Al-Qur’an surat Al-Hajj Ayat 5.
[7] Al-Qur’an surat Al-Mukminun ayat 12-14
[8] Hadits riwayat Bukhari.

Wednesday, June 1, 2011

Silaturahmi


BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
            Silaturahmi secara bahasa berasal dari dua kata, yakni silah (hubungan) dan Rahim (Rahim perempuan) yang mempunyai arti Hubungan nasab, kata al-Arham (rahim) diartikan sebagai Silaturahmi. Namun pada hakikatnya silaturahmi bukanlah sekedar hubungan nasab, namun lebih jauh dari itu hubungan sesama muslim. merupakan bagian dari silaturrahmi, sehingga Allah SWT mengibarat kan umat Islam bagaikan satu tubuh. Sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu m endapat rahmat. (49:10).[1]
Silaturahmi merupakan ibadah yang sangat agung, mudah dan membawa berkah. Kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Sehingga perlu meluangkan waktu untuk melaksanakan amal shalih ini. Demikian banyak dan mudahnya alat transportasi dan komunikasi, seharusnya menambah semangat kaum muslimin bersilaturahmi. Bukankah silaturahmi merupakan satu kebutuhan yang dituntut fitrah manusia? Karena dapat menyempurnakan rasa cinta dan interaksi sosial antar umat manusia. Silaturahmi juga merupakan dalil dan tanda kedermawanan serta ketinggian akhlak seseora ng.
Hubungan persaudaraan inilah yang menjadikan sesama muslim mempunyai kewajiban untuk saling membantu, saling menghormati, menjenguk ketika sakit, mengantarkan sampai ke kuburan ketika meninggal dunia, saling mendoakan, larangan saling mencela, menghasud dan lain sebagainya.
Manusia adalah mahluk sosial; yang selalu membutuhkan perhatian, teman dan kasih sayang dari sesamanya. Setiap diri terikat dengan berbagai bentuk ikatan dan hubungan, diantaranya hubungan emosional, sosial, ekonomi dan hubungan kemanusiaan lainnya. Maka demi mencapai kebutuhan tersebut adalah fitrah untuk selalu berusaha berbuat baik terhadap sesamanya. Islam sangat memahami hal tersebut, oleh sebab itu silaturahmi harus dilaksanakan dengan baik.
Sesungguhnya silaturahmi merupakan amal shalih yang penuh berkah, dan memberikan kepada pelakunya kebaikan di dunia dan akhirat, menjadikannya diberkahi di manapun ia berada, Allah swt memberikan berkah kepadanya di setiap kondisi dan perbuatannya, baik yang segera maupun yang tertunda. Keutamaannya sangat banyak, profitnya melimpah, buahnya matang, pohon-pohonnya baik yang memberikan makanannya di setiap waktu dengan izin Rabb-nya
Kaum  muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Sehingga perlu meluangkan waktu untuk melaksanakan amal shalih ini.
Demikian banyak dan mudahnya alat transportasi dan komunikasi, seharusnya menambah semangat kaum muslimin bersilaturahmi. Bukankah silaturahmi merupakan satu kebutuhan yang dituntut fitrah manusia?
Sesungguhnya sempurnalah dengannya keakraban, tersebar kasih sayang dengan perantaraannya, dan merata rasa cinta. Ia adalah bukti kemuliaan, tanda muru`ah, mengusahakan bagi seseorang kemuliaan, pengaruh, dan wibawa. Karena alasan itulah berlomba-lomba padanya orang-orang mulia yang berakal, maka mereka menyambung (tali silaturrahim) kepada orang yang memutuskan dan memberi kepada orang yang tidak mau memberi, serta bersifat santun kepada yang bodoh. Tidaklah nampak muru`ah kecuali ada padanya tali kekeluargaan yang disambung kembali, kebaikan yang diberikan, kesalahan yang dimaafkan, dan uzur yang diterima.
Silaturahim termasuk akhlak yang mulia. Dianjurkan dan diseru oleh Islam. Diperingatkan untuk tidak memutuskannya. Allah Ta’ala telah menyeru hambanya berkaitan dengan menyambung tali silaturahmi dalam sembilan belas ayat di kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala memperingatkan orang yang memutuskannya dengan laknat dan adzab, diantara firmanNya : “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka, dan dibutakanNya penglihatan mereka.” (QS Muhammad :22-23).
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS An Nisaa’:1).
Silaturahmi merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya, apa bila kita melaksanakan perintah tersebut disamping kita mendapatkan pahala juga akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang sangat banyak sekali.

B. RUMUSAN MASALAH
            Masalah yang dikemukakan dalam makalah ini adalah (1) apa keutamaan silaturrahim?, (2) apa bahaya memutuskan silaturrahim? Dan (3) mengapa dilarang memutuskan silaturrahim ?



BAB II
PEMBAHASAN

A. HADITS-HADITS SILATURRAHIM
1.  Keutamaan Silaturrahim
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم : مَنْ أََحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ).                                   
Dari Abi Hurairah ra. Ia berkata : bersabda rasulullah saw. : “ Barang siapa yang ingin di luaskan rizqinya dan di panjangkan umurnya maka hendaknya ia menyambung silaturahmi”. ( H.R Bukhari)

2.  Bahaya memutuskan silaturrahim
عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ يَدْخُلُ اَلْجَنَّةَ قَاطِعٌ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)                                                                                        
            Dari Jubair bin Muth’im ra. Ia berkata : bersabda Rasulullah saw. : “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan”. (Mutafaqun ‘alaih)

3. Larangan memutuskan silaturrahim
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ  صلى الله عليه وسلم قَالَ: لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ, فَيُعْرِضُ هَذَا, وَيُعْرِضُ هَذَا, وَخَيْرُهُمَا اَلَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)                                                                               
            Dari Abu Ayub ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda : “tidak di halalkan bagi seorang muslim memusuhi saudaranya lebih dari tiga hari, sehingga jika bertemu saling berpaling muka, dan sebaik-baik keduanya adalah yang mendahului memberi salam”. (Mutafaqqun ‘alaih)

B. MAKNA KOSA KATA
- أَثَرِهِ  bermakna ajal, karena dia ikuti kepada kehidupan dalam jejak-jejaknya,
- بَسْطُ رِزْقِهِ
bermakna dilapangkan dan diperbanyak, dikatakan pula bermakna berkah di dalamnya (yakni diberkahi rizkinya).
- قَاطِعٌ bermakna orang yang memutuskan hubungan
- يَهْجُر bermakna memusuhi
- فَيُعْرِضُ هَذَا sehingga bertemu saling berpaling muka, maksudnya tidak saling bertegur sapa.
C. INTERPRETASI HADITS
1. keutamaan silaturrahim
Hadits yang agung ini memberikan salah satu gambaran tentang keutamaan silaturahmi. Yaitu dipanjangkan umur pelakunya dan dilapangkan rizkinya.
Adapun penundaan ajal atau perpanjangan umur, terdapat satu permasalahan; yaitu bagaimana mungkin ajal diakhirkan? Bukankah ajal telah ditetapkan dan tidak dapat bertambah dan berkurang sebagaimana firmanNya:
                                                      .وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَيَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَيَسْتَقْدِمُونَ
Artinya: “Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS Al A’raf: 34).
Jawaban para ulama tentang masalah ini sangatlah banyak. Di antaranya,
Pertama, Yang dimaksud dengan tambahan di sini, yaitu tambahan berkah dalam umur. Kemudahan melakukan ketaatan dan menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat baginya di akhirat, serta terjaga dari kesia-siaan.
Kedua, Berkaitan dengan ilmu yang ada pada malaikat yang terdapat di Lauh Mahfudz dan semisalnya. Umpama usia si fulan tertulis dalam Lauh Mahfuzh berumur 60 tahun. Akan tetapi jika dia menyambung silaturahim, maka akan mendapatkan tambahan 40 tahun, dan Allah telah mengetahui apa yang akan terjadi padanya (apakah ia akan menyambung silaturahim ataukah tidak).
Demikian ini ditinjau dari ilmu Allah. Apa yang telah ditakdirkan, maka tidak akan ada tambahannya. Bahkan tambahan tersebut adalah mustahil. Sedangkan ditinjau dari ilmu makhluk, maka akan tergambar adanya perpanjangan (usia).
Ketiga, Yang dimaksud, bahwa namanya tetap diingat dan dipuji. Sehingga seolah-olah ia tidak pernah mati. Demikianlah yang diceritakan oleh Al Qadli, dan riwayat ini dha’if (lemah) atau bathil. Wallahu a’lam. [Shahih Muslim dengan Syarah Nawawi, bab Shilaturrahim Wa Tahrimu Qathi’atiha (16/114)]:
            Keutamaan silaturahmi yang lainnya, dijelaskan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam banyak hadits. Diantaranya ialah :
Pertama, Silaturahmi merupakan salah satu tanda dan kewajiban iman. Sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hadits Abu Hurairh, beliau bersabda, dipanjangkan umur dan dilapangkan rizkinya oleh allah
Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah bersilaturahmi.” (Mutafaqun ‘alaihi).
Kedua, Mendapatkan rahmat dan kebaikan dari Allah Ta’ala . Sebagaimana sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam ,
Artinya: “Allah menciptakan makhlukNya, ketika selesai menyempurnakannya, bangkitlah rahim dan berkata,”Ini tempat orang yang berlindung kepada Engkau dari pemutus rahim.” Allah menjawab, “Tidakkah engkau ridha, Aku sambung orang yang menyambungmu dan memutus orang yang memutusmu?” Dia menjawab,“Ya, wahai Rabb.”” (Mutafaqun ‘alaihi).
Ibnu Abi Jamrah berkata,“Kata ‘Allah menyambung’, adalah ungkapan dari besarnya karunia kebaikan dari Allah kepadanya.”
Sedangkan Imam Nawawi menyampaikan perkataan ulama dalam uraian beliau,“Para ulama berkata, ‘hakikat shilah adalah kasih-sayang dan rahmat. Sehingga, makna kata ‘Allah menyambung’ adalah ungkapan dari kasih-sayang dan rahmat Allah.” [Lihat syarah beliau atas Shahih Muslim 16/328-329]
Ketiga, Silaturahmi adalah salah satu sebab penting masuk syurga dan dijauhkan dari api neraka. Sebagaimana sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam,
Artinya: “Dari Abu Ayub Al Anshari, beliau berkata, seorang berkata,”Wahai Rasulullah, beritahulah saya satu amalan yang dapat memasukkan saya ke dalam syurga.” Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab,“Menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan bersilaturahmi.”” (Diriwayatkan oleh Jama’ah).[2]
2. Bahaya memutuskan silaturrahim
0rang yang memutuskan silaturahmi adalah orang yang dilaknat oleh Allah. Dosa yang dipercepat oleh Allah untuk diberi siksa di dunia dan akhirat adalah memutuskan silaturahmi (selain berbuat zalim). 0rang yang memutuskan silaturahmi doanya tidak dikabulkan oleh Allah. 0rang yang memutuskan silaturahmi tidak akan masuk surga. Bila dalam suatu kaum terdapat orang yang memutus silaturahmi, maka kaum itu tidak akan mendapat rahmat dari Allah.[3]
Allah berfirman:
ö@ygsù óOçFøŠ|¡tã bÎ) ÷LäêøŠ©9uqs? br& (#rßÅ¡øÿè? Îû ÇÚöF{$# (#þqãèÏeÜs)è?ur öNä3tB$ymör& ÇËËÈ   y7Í´¯»s9'ré& tûïÏ%©!$# ãNßgoYyès9 ª!$# ö/àS£J|¹r'sù #yJôãr&ur öNèdt»|Áö/r& ÇËÌÈ  

 “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan  Mereka itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka" (QS. Muhammad :22-23)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
artinya :"Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal." Para sahabat lantas mengatakan, "Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a." Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata," Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do'a-do'a kalian"." (HR. Ahmad)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
artinya : "Tidak ada dosa yang Allah swt lebih percepat siksaan kepada pelakunya di dunia, serta yang tersimpan untuknya di akhirat selain perbuatan zalim dan memutuskan tali silaturahmi" (HR Tirmidzi)

 Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
Artinya : "Rahmat tidak akan turun kepada kaum  yang padanya terdapat orang yang memutuskan tali silaturahmi (HR Muslim).
            3.  Larangan memutuskan silaturrahim
Islam menganjurkan untuk menyambung hubungan dan bersatu serta mengharamkan pemutusan hubungan, saling menjauhi, dan semua perkara yang menyebabkan lahirnya perpecahan. Karenanya Islam menganjurkan untuk menyambung silaturahim dan memperingatkan agar jangan sampai ada seorang muslim yang memutuskannya. Dan Nabi shalllallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa bukanlah dikatakan menyambung silaturahmi ketika seorang membalas kebaikan orang yang berbuat kebaikan kepadanya, yakni menyambung hubungan dengan orang yang senang kepadanya. Akan tetapi yang menjadi hakikat menyambung silaturahmi adalah ketika dia membalas kebaikan orang yang berbuat jelek kepadanya atau menyambung hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan dengannya.
Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa balasan disesuaikan dengan jenis amalan. Karenanya, barangsiapa yang menyambung hubungan silaturahminya maka Allah juga akan menyambung hubungan dengannya, dan di antara bentuk Allah menyambungnya adalah Allah akan menambah rezekinya, menambah umurnya, dan senantiasa memberikan pertolongan kepadanya.[4]
Sebaliknya, siapa saja yang memutuskan hubungan silaturahimnya maka Allah juga akan memutuskan hubungan dengannya. Dan ketika Allah sudah memutuskan hubungan dengannya maka Allah tidak akan perduli lagi dengannya, Allah akan menjadikannya buta dan tuli, dan menimpakan laknat kepadanya. Dan siapa yang mendapatkan laknat maka sungguh dia telah dijauhkan dari kebaikan dan rahmat Allah Ta’ala yang Maha Luas.
Dampak yang ditimbulkan bila silaturahim diantara kita putus, sangatlah besar, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Di antaranya adalah sebagai berikut :
1.      Segala amalnya tidak berguna dan tidak berpahala. Walaupun kita telah beribadah dengan penuh keikhlasan, siang dan malam, tetapi bila kita masih memutus tali silaturahim dan menyakiti hati orang-orang Islam yang lain, maka amalannya tidak ada artinya di sisi Allah SWT.
2.      Amalan shalatnya tidak berpahala. Sabda Rasulullah SAW : "Terdapat 5 (lima) macam orang yang shalatnya tidak berpahala, yaitu : isteri yang dimurkai suami karena menjengkelkannya, budak yang melarikan diri, orang yang mendemdam saudaranya melebihi 3 hari, peminum khamar dan imam shalat yang tidak disenangi makmumnya."
3.      Rumahnya tidak dimasuki malaikat rahmat. Sabda Rasulullah SAW : "Sesungguhnya malaikat tidak akan turun kepada kaum yang didalamnya ada orang yang memutuskan silaturahmi."
4.      Orang yang memutuskan tali silaturahmi diharamkan masuk surga. Sabda Rasulullah SAW : " Terdapat 3 (tiga) orang yang tidak akan masuk surga, yaitu : orang yang suka minum khamar, orang yang memutuskan tali silaturahmi dan orang yang membenarkan perbuatan sihir." [5]


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
            Dari interpretasi hadits di atas kami dapat menyimpulkan bahwa :
·         Silaturrahim merupakan sebagian dari konsekuensi iman dan tanda-tandanya.
·         Silaturrahim adalah penyebab bertambah umur dan luas rizqi.
·         Silaturrahim menyebabkan adanya hubungan Allah bagi orang yang menyambungnya.
·         Silaturrahim merupakan salah satu penyebab utama masuk surga dan jauh dari neraka, karena tidak akan di terima amalan jika memutuskan silaturrahim.
·         Silaturrahim merupakan ketaatan kepada Allah dan ibadah besar, serta petunjuk takutnya hamba kepada Rabb-Nya. Maka ia menyambung tali silaturrahim tatkala Allah menyuruh untuk disambung.
·         Di antara besarnya silaturrahim, sesungguhnya sedekah terhadap keluarga sendiri tidak seperti sedekah terhadap orang lain.
B. Signifikansi Silaturrahim
Silaturrahim merupakan ibadah yang sangat agung, mudah dan membawa berkah. Kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Sehingga perlu meluangkan waktu untuk melaksanakan amal shalih ini. Demikian banyak dan mudahnya alat transportasi dan komunikasi, seharusnya menambah semangat kaum muslimin bersilaturahmi. Bukankah silaturrahim merupakan satu kebutuhan yang dituntut fitrah manusia? Karena dapat menyempurnakan rasa cinta dan interaksi sosial antar umat manusia. Silaturahmi juga merupakan dalil dan tanda kedermawanan serta ketinggian akhlak seseorang.
Hubungan persaudaraan inilah yang menjadikan sesama muslim mempunyai kewajiban untuk saling membantu, saling menghormati, menjenguk ketika sakit, mengantarkan sampai ke kuburan ketika meninggal dunia, saling mendoakan, larangan saling mencela, menghasud dan lain sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’anul kariim
Alkamil, http://www.alkamil.8k.com/taujihat/Taujihsilaturahim.html
Marfiansyah,http://www.marfinsyah.co.cc/2011/01/hadist-keutamaan-silaturahmi.html
Ilahi Fadli Syaikh, http://www.almanhaj.or.id/content/964/slash
http://pujihpoltekkes.wordpress.com/2010/12/09/silaturahmi
www.jamal-alfath.blogspot.com/silaturahmi.html


[1]              http://pujihpoltekkes.wordpress.com/2010/12/09/silaturahmi

[2]               Ibid.,
[3]              http://almanhaj.or.id/content/964/slash/

[4]              http://www.alkamil.8k.com/taujihat/Taujihsilaturahim.htm

[5]               http://www.marfinsyah.co.cc/2011/01/hadist-keutamaan-silaturahmi.html