Welcome to www.jamal.com
go to my homepage
Go to homepage
WELLCOME TO SITUS LO HULONDHALO

Thursday, October 20, 2011

Tekhnik Penentuan Nilai Akhir Penyusunan Ranking Dan Pembuatan Profil Prestasi Belajar


A.    Prinsip Penilaian
Pemberian nilai mempunyai peranan yang penting dalam menentukan nilai-nilai akhir dari prestasi akademis siswa atau mahasiswa. Adapun beberapa yang menjadi prinsip dalam penilaian antara lain :
1.      Penilaian hendaknya didasarkan atas hasil pengukuran yang komprehensif. Penilaian ini didasarkan atas sampel prestasi yang cukup banyak, baik macamnya maupun jenisnya.
2.      Harus dibedakan antara penskoran (scoring) dan penilaian (grading). Penskoran berarti proses pengubahan prestasi menjadi angka-angka, sedangkan dalam penilaian kita memproses angka-angka hasil kuantifikasi prestasi itu dalam hubungannya dengan “kedudukan” personal siswa dan mahasiswa yang memperoleh angka-angka dalam skala tertentu.
3.      Dalam proses pemberian nilai hendaknya diperhatikan adanya dua macam orientasi, yaitu penilaian yang norms-referenced dan yang criterion-referenced. Norm referenced evaluation adalah penilaian yang diorientasikan pada suatu kelompok tertentu; Criterion referenced evaliation ialah penilaian yang diorientasikan kepada suatu standar absolut, tanpa dihubungkan dengan suatu kelompok tertentu.
4.      Kegiatan pemberian nilai hendaknya merupakan bagian integral dari proses belajar-mengajar. Disamping untuk mengetahui status siswa dan menaksir kemampuan belajar serta penguasaannya kepada siswa sendiri maupun bagi guru atau pengajar. Dari hasil tes, pengajar dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan siswa tertentu sehingga selanjutnya ia dapat melakukan koreksi terhadap kesalahan yang diperbuatnya dan atau aturan memberi reinforcemence bagi prestasi yang baik.
5.      Penilaian harus bersifat komparabel. Artinya, setelah tahap pengukuran yang menghasilkan angka-angka itu dilaksanakan, prestasi-prestasi yang menduduki skor yang sama harus memperoleh nilai yang sama pula. Atau jika dibuat dari segi lain, penilaian harus dilakukan secara adil.
6.      Sistem penilain yang dipergunakan hendaknya jelas bagi siswa dan bagi pengajar sendiri. Sumber ketidakberesan dalam penilaian terutama adalah tidak jelasnya sistem penilaian itu sendiri bagi para guru atau pengajar: apa yang dinilai serta macam skala penilaian yang dipergunakan dan makna masing-masing skala itu.

B.     Cara dan Teknik Penilaian
  1. Cara menilai dapat ditempuh dengan dua cara, yaitu:
a.       cara kuantitatif, (Penilaian dalam bentuk angka)
b.      cara kualitatif, (berbentuk pernyataan), seperti baik, cukup, sedang, dan kurang.
  1. Teknik penilaian antara lain:
a.       Teknik berbentuk tes, digunakan untuk menilai kemampuan siswa yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, bakat khusus (bakat bahasa, dan teknik), dan bakat umum (intelegensi). Contoh: essay tes, objective, true-false, multiple choice, matching, dan completion.
b.      Teknik bentuk nontes untuk menilai sikap, minat dan kepribadian siswa; mungkin digunakan untuk wawancara, angket, dan observasi.

C.    Jenis-Jenis standar Penilaian
Ada dua jenis standar penilaian yang dapat digunakan dalam mengolah hasil penilaian.
1.      Standar mutlak: hasil yang dicapai masing-masing siswa dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
2.      Standar relatif: hasil yang dicapai masing-masing siswa dibandingkan dengan norma kelompok, yaitu hasil yang dicapai oleh siswa-siswa lain dalam kelompok yang sama (norm-referenced evaluation).

D.    Acuan penilaian
Dalam setiap kegiatan belajar mengajar selalu dilakukan penilaian. Hasil penilaian disajikan dalam bentuk nilai angka atau huruf. Pada umumnya yang pemberian nilai huruf biasa digunakan pada perguruan tinggi, yaitu A, B, C, D, dan F, sedangkan bobot dari masing-masing nilai huruf jika ditransfer kedalam nilai angka sebagai berikut: A = 4, B = 3, C = 2, dan F = 0.
E.     Prosedur Pemberian Nilai
Beberapa prosedur penilaian terhadap hasil belajar siswa dengan baik, perlu kita kaji beberapa prosedur penilaian dari yang sangat sederhana dan mengandung banyak kelemahan sampai kepada yang lebih rumit dan sophisticated.
1.      Prosedur penilaian yang paling sederhana, atau mungkin juga dapat dikatakan paling tua dan paling banyak dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan kita, ialah prosedur yang tidak membedakan dengan jelas adanya dua fase, yaitu fase pengukuran dan penilaian.
2.      Prosedur ini dan berikutnya adalah prosedur yang telah memisahkan fase pengukuran dan fase penilaian dengan pelbagai variasi, mulai dari yang relatif sederhana sampai dengan yang lebih rumit dan sophisticated.
3.      Prosedur penilaian dengan menggunakan persentase (%) banyak digunakan karena anggap lebih sederhana dan praktis. Prosedur ini didasarkan atas anggapan bahwa proses pengukuran yang dipergunakan sebagai dasar persentase itu telah mempergunakan alat-alat yang memadai dan dianggap baik.
4.      Prosedur yang mengunakan teknik statistik yang lebih kompleks, yaitu yang dinamakan prosedur perstandarisasian, karena dalam mentransformasikan skor-skor hasil pengukuran suatu kelompok siswa menggunakan rentangan yang disebut deviasi standar, yaitu penyimpangan rata-rata yang dihitung dari nilai titik tengah kelompok (mean) atau rata-rata hitung (arithmetic mean).

DAFTAR PUSTAKA

Purwanto, M. Ngalim., 2006. Prinsip-prinsip dan Tekhnik Evaluasi Pengajaran, cet. Ke-12, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Surapranata, Sumarna., 2004. Analisis, Validitas, Reliabilitas dan Interpretasi Hasil Tes; Implementasi Kurikulum 2004, cet. Ke-1, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

_________., 2004. Panduan Penulisan Tes Tertulis; Implementasi Kurikulum 2004, cet. Ke-1, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

1 comment: