Welcome to www.jamal.com
go to my homepage
Go to homepage
WELLCOME TO SITUS LO HULONDHALO

Sunday, April 7, 2013

Perbandingan antara aliran-aliran tentang konsep Iman


Para Mutakallimin secara umum merumuskan unsur-unsur iman terdiri dari al tasdiq bi al-qalb; al-iqrar bi al-lisan; dan al-‘amal bi al-jawarih. Ada yang berpendapat unsur ketiga dengan istilah yang lain: al-‘amal bi al-arkan yang membawa maksud melaksanakan rukun-rukun Islam.[1]
            Secara bahasa , iman berarti membenarkan (tashdiq), sementara menurut istilah adalah ”mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalam hati dan mengamalkan dalam perbuatannya”. Adapun iman menurut pengertian istilah yang sesungguhnya ialah kepercayaan yang meresap kedalam hati, dengan penuh keyakinan, tidak bercampur syak dan ragu, serta iasr pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari- hari.
            Perbedaan dan persamaan pendapat para mutakallimindalam konsep iman nampaknya berkisar di sekitar unsur tersebut. Bagi Khawarij antaranya mengatakan pengartian iman itu ialah, beri’tikad dalam hati dan berikrar dengan lidah serta menjauhkan diri dari segala dosa.[2]
            Pengartian yang diberikan oleh Khawarij di atas, sama dengan Mu’tazilah pada unsur yang pertama dan yang kedua, tetapi berbeda pada unsur yang ketiga di dalam hal menjauhkan diri dari segala dosa, bagi Khawarij termasuk dosa kecil. Sedangkan bagi Mu’tazilah hanya menjauhkan diri dari dosa besar saja.[3]
            Bagi Murji’ah pula, menurut al-Bazdawi majoriti mereka berpendapat bahwa iman itu hanyalah ma’rifah kepada Allah semata-mata.[4] Sedangkan bagi Asy’ariyyah, iman ialah membenarkan dengan hati, dan itulah i’tikad .Di sini terdapat persaman antara konsep Murji’ah dan Asy’ariyyah yang menekankan tugas hati bagi iman atas pengakuan. Cuma Murji’ah menggunakan perkataan ma’rifah, sementara Asy’ariyyah menggunakan al-tasdiq.
            Selanjutnya konsep Maturidiyyah secara umumnya sama dengan konsep Asy’ariyyah dari ahli al-sunnah wa al-jama’ah, cuma sedikit perbedaan, yaitu bagi Maturidiyyah tasdiqdengan hati mesti satu kesatuan beriqrar dengan lidah. Sedangkan bagi Asy’ariyyah hanya memadai dengan pengakuan hati untuk membuktikan keimanan, taqrir dengan lisan tidak diperlukan, kerana taqrir dengan lisan dan mengerjakan rukun-rukun Islam adalah merupakan cabang dari iman.[5]
            Pendapat Ahli al-Sunnah wa al-Jama’ah golongan Asy’ariyyah yang agak lebih lengkap tentang iman separti yang diberikan oleh al-Baghdadi yang dikutip oleh Harun Nasution, ia menerangkan bahwa ada tiga bagian, yaitu :
a) Iman yang membuat orang keluar dari golongan kafir dan tidak kekal dalam neraka, yaitu: Mengakui Tuhan, kitab, para Rasul, qadar baik dan jahat, sifat-sifat Tuhan dan segala keyakinan lain yang diakui dalam syari’at.
b) Iman yang mewajibkan adanya keadilan dan melenyapkan nama fasiq dari seseorang serta yang melepaskan dari neraka, yaitu mengerjakan segala yang wajib dan menjauhi segala dosa besar.
c) Iman yang menjadikan seseorang itu memperolehi prioriti untuk langsung masuk ke surga tanpa perhitungan, yaitu mengerjakan segala yang wajib serta yang sunah dan menjauhi segala dosa.[6]
Dari uraian di atas, dapat dibuat kesimpulan bahwa konsep iman dari aliran yang lima ini, secara umum dapat dibagi kepada dua:
Pertama :
Konsep yang menerima unsur-unsur iman itu secara mantap ketiga-tiganya, yaitu, al-tasdiq bi al-qalb; al-iqrar bi al-lisan, al-‘amal bi al-jawarih ataual-‘amal bi al-arkan.
Kedua :
Konsep yang menekankan kepada unsur pertama sahaja dari ketiga-tiga unsur tersebut. Unsur-unsur kedua dan ketiga bagi golongan ini hanya merupakan cabang-cabang sahaja dari iman. Pendapat yang kedua ini terdapat pada golongan yang berpendapat arti iman sebagai ma’rifah dan tasdiq. Golongan ini termasuk Murji’ah, Asy’ariyyah dan Maturidiyyah.

C. Perbandingan Antara Aliran tentang Bertambah dan berkurangnya Iman
            Di dalam al-Quran ada memberikan keterangan tentang bertambahnya iman, di antaranya:
a. Surah al-Anfal, 8: 2:
Maksudnya:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gementarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya,bertambahlah iman mereka (kerananya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
b. Surah al-Taubah, 9: 124:
Maksudnya:
Dan apabila diturunkan satu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini? “Adanya orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.
            Pendapat Khawarij yang kuat berpegang kepada al-Quran, mengakui bahawa iman boleh bertambah dan boleh berkurang. Sejalan dengan iman yang dipegang oleh golongan ini, yaitu tasdiq, taqrir dan ‘amal sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah-pisah, kecacatan salah satu dari ketiga-tiga unsur itu akan mengurangkan iman. Menurut mereka amal adalah bukti yang nyata realisasi iman, tinggi rendah kualiti amal menentukan pula tinggi rendahnya kualiti iman.
            Konsep bertambah dan berkurangnya iman dalam pandangan Khawarij, dapat diterima oleh Mu’tazilah, kecuali bedanya bagi Mu’tazilah yang merusakkan iman itu adalah dosa besar. Bagi mereka dosa besar bukan saja mengurangkan iman, tetapi juga mengubah dari seorang yang mukmin, menjadi tidak mukmin dan tidak pula kafir tetapi menjadi fasiq,[7] yang menduduki posisi di antara posisi mukmin dan posisi kafir.[8] Sementara pendapat Khawarij lebih berat dari Mu’tazilah, kerana dosa besar dan dosa kecil bagi Khawarij boleh mengubahkan terus status mukmin berganti kepada status kafir, amal yang baik akan bertambah dan kuatnya iman seseorang.
            Selanjutnya bagi Murji’ah, adalah berbeda terus dengan konsep Khawarij dan Mu’tazilah. Artinya bagi Murji’ah, bahawa iman tidak bertambah dan tidak pula berkurang, kerana iman bagi Murji’ah hanyalah semata-mata ma’rifah, yaitu pengakuan yang mendalam tentang Tuhan. Bagi Murji’ah tidak mungkin mengetahui rukun-rukun agama kecuali denganma’rifah kepada Allah.[9]
            Dilihat dari segi pemahaman di atas, semestinya bagi Asy’ariyyah dan Maturidiyyah adalah sependapat tentang konsep bertambah dan berkurangnya iman, kerana bagi Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, iman hanya tasdiq, tetapi ternyata bahawa Asy’ariyyah dan Maturidiyyah mempunyai pendapat yang berbeda.
            Menurut Abd. Hamid Musa, mengutip pendapat Ahmad Amin bahwa bagi Asy’ariyyah, iman boleh berkurang dan boleh bertambah. Asy’ariyyah berdalilkan kepada al-Quran surah al-Anfal, 8: 12:
Maksudnya:
(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.
Sementara bagi Maturidiyyah, iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang. Logik Maturidiyyah adalah tidak menunjukkan bertambahnya iman kecuali kurangnya kufur, sebaliknya tidaklah menunjukkan berkurangnya iman kecuali dengan bertambahnya kufur.[10]
            Walaupun Asy’ariyyah dan Maturidiyyah bergabung ke dalam golongan ahl al-Sunnah wa al-jama’ah, tetapi nampaknya dalam hal bertambah dan berkurangnya iman, ahli sunnah mengambil pendapat Maturidiyyah, yaitu iman tidak bertambah dan berkurang. Hanya Imam al-Syafi’i yang juga golongan ahli sunnah wa al-jama’ah sependapat dengan Asy’ariyyah, mengatakan bahawa iman boleh berkurang danbertambah.[11]
            Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendapat kesemua aliran tentang bertambah dan berkurangnya iman terbahagi kepada dua golongan:
Golongan Pertama:
Berpendapat bahawa iman itu boleh bertambah dan berkurang kerana amal perbuatan seseorang mukmin. Pendapat-pendapat ini terdapat pada aliran-aliran: Khawarij, Mu’tazilah dan Asy’ariyyah dengan perbahasan yang berbeda.
Golongan Kedua:
Iman tidak bertambah dan tidak pula berkurang, lantaran amal perbuatan seseorang mukmin. Pendapat ini terdapat pada aliran-aliran Murji’ah dan Maturidiyyah dengan perbahasan yang berbeda juga. Pendapat yang kedua ini diterima pula oleh golongan ahl al-sunnah wa al-jama’ah.


[1] Jalal Abd. Hamid Musa, 1975, Nasy’ah al-Asy’ariyyah wa tatawwaruha, Lebanon: Dar al-Kitab, hal. 265.
[2] Al-Bazdawi, Kitab Usuluddin, Kahirah: Dr. Hans Piter Linss (Et. Al), Dar Haya’, hal. 265
[3] Ibid
[4] Ibid
[5] Harun Nasution, 1983. Akal dan Wahyu dalam Islam. Jakarta: UI-Press.. hal. 28
[6] Ibid., hal. 29.
[7] Lihat Subhi, 1982, Fi ‘ilm al-Kalam, Iskandariyyah: Tsaqafah al-Jami’ah, hal. 67
[8] Harun Nasution, 1983. Akal dan Wahyu dalam Islam. Jakarta: UI-Press.., hal. 43.
[9] Al-Bazdawi, Kitab Usuluddin. Kahirah: Dr. Hans Piter Lins (Et. Al), Dar Haya’.., hal. 147.
[10] Jalal Abd. Hamid Musa. 1975. Nasy’ah al-‘Asy’ariyyah wa tatawwaruha. Lebanon: Dar al-Kitab. Hal. 284-285
[11] DR. Abdul Rozak,M.Ag. dan Drs.Rosihon Anwar,M.Ag . Ilmu kalam. Bandung:CV. Pustaka setia,2006. 

1 comment: